Teori Ketuhanan Universal.

Lalu, bagaimanakah seharusnya cara pandang kita terhadap Tuhan?

Jelas setiap orang punya cara pandang dan pemahaman sendiri-sendiri. Dan ini adalah salah satu cara pandang terhadap Tuhan:

Tuhan haruslah Yang Maha Hebat, tidak ada yang lebih hebat dari Dia. Tidak ada yang berada di atas Dia. Karena kita seharusnya hanya menyembah Tuhan Yang Maha Hebat. Mana mungkin kita menyembah tuhan yang lemah, yang masih ada yang membatasinya. Tuhan adalah pencipta segalanya, apapun itu, alam semesta ini, maupun alam-alam lainnya, bahkan alam fikir, atau alam apapun. Dia Maha Tahu, tidak ada yang tidak diketahuiNya, karena semua adalah ciptaanNya. Dia adalah awal dari segala-galanya. Mana mungkin kita menyembah tuhan yang tidak tahu akan segala sesuatu.

Tuhan yang kita sembah haruslah Tuhan Yang Maha Kuasa, yang tidak butuh apa-apa, tidak tergantung kepada apapun dan siapapun, tidak butuh hambanya, tidak butuh makhluk ciptaannya, tidak butuh pertolongan siapa-siapa, tidak terikat aturan apapun, tidak butuh disembah, tidak butuh teman, tidak butuh pembantu, benar-benar tidak butuh apapun dan siapapun. Tuhan yang bisa berbuat apapun, bebas berkehendak apapun, terhadap siapapun. Tuhan yang benar-benar Maha Kuasa dan Maha Perkasa. Yang berkuasa atas segalanya. Dan kitalah yang butuh Dia, butuh menyembahNya, butuh pertolonganNya, butuh dekat denganNya, butuh terikat kepadaNya, butuh kasih sayangNya. Sekali lagi, Tuhan tidak butuh kita, atau pertolongan kita, tapi kitalah yang membutuhkanNya.

Bagaimana mungkin kita menyembah tuhan yang lemah, yang butuh pertolongan kita, butuh teman, butuh pembantu, butuh umat, butuh disembah, butuh dipuji. Mustahil kita menyembah tuhan yang seperti itu, itu pasti bukanlah tuhan yang sesungguhnya, karena Tuhan adalah Yang Maha Segala-galanya. Orang boleh mengatakan bahwa Tuhan itu begini, atau begitu, terdiri dari ini, terbagi menjadi itu, bahwa Tuhan itu rumit, bahwa begini cara memahamiNya, dan seterusnya.

Ingat! Tuhan sudah ada jauh sebelum agama-agama ada, jauh sebelum agama-agama diciptakan. Tuhan selalu ada, bahkan kelak saat mungkin agama-agama sudah tidak ada lagi. Ingat! Agama adalah makhluk ciptaan yang tidak abadi. Jadi bagaimana mungkin agama bisa membatasi bahwa Tuhan itu begitu dan begini?

Jadi sederhana saja:    
Tuhan itu ya yang satu itu, Yang Maha Segala-galanya itu! sesederhana itu, untuk apa di bikin rumit.
Sama sekali tidak perlu!

Bagaimanakah seharusnya hubungan kita dengan Tuhan? >> klik di sini >>

:

  1. kenapa Tuhan tidak butuh kita, atau pertolongan kita, tapi kitalah yang membutuhkanNya.?...........
    apa tujuan tuhan menciptakan manusia?
    untuk apa tuhan menciptakan semua ini?
    ada yang baik maupun yang buruk?

    BalasHapus
  2. @ fuad ld, terima kasih telah memberikan komentarnya di blog ini, marilah kita saling sharing apa yang kita ketahui biarpun mungkin hanya sedikit

    mengenai pertanyaan pertama sebenarnya sudah ada jawabannya di atas: Karena Dia Pencipta segalanya

    pertanyaan ke 2 dan 3 saya skip dulu, langsung ke pertanyaan ke 4, yaitu mengapa Tuhan menciptakan baik dan buruk. Ini berhubungan dengan akal dan hati yang diberikanNya kepada manusia, yaitu untuk memikirkannya dan memahami apa itu hakekat dari baik dan buruk. Baik dan buruk adalah dualitas, atau sesuatu yang berseberangan atau berlawanan. Ini seperti juga siang-malam laki-perempuan panas-dingin cinta-benci dan seterusnya. Pada dasarnya tidak ada baik jika tidak ada buruk, dan ini berlaku pada semua dualitas lainnya. Adanya dualitas adalah untuk memberikan pergerakan dinamika kehidupan di muka bumi ini, atau bahkan diseluruh alam semesta. Mari kita ambil contoh yang paling mudah yaitu panas-dingin, jika tidak ada panas maka tidak ada dingin. Katakanlah suhu bumi rata 27 derajat C, sesuai suhu tubuh, maka udara akan berhenti bergerak, tidak ada pergerakan angin, burung-burung berhenti bermigrasi, manusiapun akan bermalas-malasan dan seterusnya. Maka perbedaan suhu dibutuhkan biar ada dinamika kehidupan yang berjalan. Kerugiannya timbul jika dualitas ini menjadi terlalu ekstrim, perbedaan suhu yang terlalu besar akan menyebabkan timbulnya angin yang terlalu kencang, bahkan bisa menjadi badai dan tornado yang sangat merusak. Demikian pula segala dualitas lainnya, adalah baik jika pada porsinya, tetapi menjadi tidak baik jika kurang atau melebihi batasnya. Nah sesudah memahami manfaat dualitas, maka ada baiknya jika kita bergerak lebih jauh lagi, yaitu bagaimana caranya mengatasi dualitas ini. Dualitas yang paling mengombang-ambingkan manusia adalah perasaan senang dan sedih. Mari kita teliti lebih jauh dengan membandingkannya dengan kondisi panas-dingin di alam terbuka. Perbedaan panas-dingin yang ekstrim akan menyebabkan badai, dan badai ini paling tidak efeknya adalah menyulitkan kita untuk melihat sekeliling kita dengan jelas. Demikian juga senang-sedih yang biasanya dipicu dari pikiran dan menimbulkan badai di pikiran sehingga orang susah untuk berpikir jernih baik pada kondisi terlalu senang maupun terlalu sedih. Badai di pikiran ini memicu dan saling berinteraksi dengan badai di dalam dada. Senang dan sedih apabila diamati pasti akan menimbulkan efek tekanan di dalam dada, dan lokasinya bisa berbeda-beda setiap macam perasaan dan berbeda-beda tiap orang. Ketidak stabilan di dalam dada akan menimbulkan kekacauan di pikiran dan demikian pula sebaliknya. Disinilah peran penting dari meditasi atau sembahyang, yaitu untuk meredakan pikiran. Apabila pikiran sudah tenang, maka akan jernih terlihat badai baik yang berada di pikiran itu sendiri, maupun yang berada di dalam dada. Maka bagi orang-orang yang terlatih, senang-sedih dan berbagai macam perasaan lainnya hanyalah sekedar tumpukan tekanan atau energi di dalam dada. Dengan berlatih melepaskan energi tersebut maka mereka bisa mengendalikan perasaannya. Salah satu caranya adalah dengan teknik pernapasan. Nah jika pikiran tenang dan dada tenang, barulah kita bisa melihat dengan jernih ke dalam diri kita sendiri. Inilah yang sering disebut kenalilah dirimu sendiri, maka engkau akan mengenali Tuhanmu. Bagaimana mungkin seseorang mengenali Tuhannya, jika dirinya sendiri saja dia tidak tahu. Jika kondisi dualitas senang-sedih ini bisa diatasi, maka hakekat apa itu baik-buruk akan bisa dipahami, dan selanjutnya ke hakekat manusia, mengapa Tuhan menciptakan manusia dan alam semesta ini akan perlahan-lahan dimengerti atas seijinNya.

    Membicarakan baik-buruk dan tujuan Tuhan menciptakan segalanya ini tanpa mendalami proses di atas hanya akan berhenti di alam pikiran saja dan akan menjadi polemik berkepanjangan tanpa ada manfaat sama sekali bagi diri sendiri. Banyak buku yang mencoba menjelaskan kenapa Tuhan menciptakan segala sesuatu ini, tapi tanpa proses di atas tetap saja sang manusia tidak akan mengerti.

    BalasHapus
  3. hanya sekedar menanggapi....
    menurut saya, Tuhan tidak perna menciptakan sesuatu yang buruk. semua yang diciptakan adalah baik, hanya saja manusia lebih memilih untuk melakukan yang jahat.
    jadi intinya semua tergantung pilihan individu itu.... mau pilih baik atau jahat...
    (maaf kalau keliru....)

    BalasHapus
  4. fuad: pasti anda anggota HmI :D
    yakusa, salam perjuangan

    BalasHapus